Senin, 30 Juni 2014

TOKSILOGI LOGAM BERAT

Toksilogi Logam Berat HG (Merkuri) 
Kasus Sejak 1986–2003, PT Newmont Minahasa Raya meninggalkan beban derita terhadap warga Teluk Buyat dan kerusakan lingkungan hidup yang tergolong berat. Hal ini diperkuat dalam Laporan Resmi Tim Teknis Penanganan Kasus Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Teluk Buyat–Teluk Ratatotok (2004). Dalam laporan itu, disebutkan: 
  1. Berlawanan dengan klaim PT Newmont Minahasa Raya, lapisan “pelindung” termoklin tidak ditemukan pada kedalaman 82 meter. 
  2. Teluk Buyat TERCEMAR Arsen dan merkuri berdasarkan ASEAN Marine Water Quality Criteria 2004. 
  3. Sumber (pencemaran) Arsen dan Merkuri di Teluk Buyat adalah limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya, BUKAN alamiah. 
  4. Keanekaragaman hayati kehidupan laut di Teluk Buyat MENURUN akibat pencemaran Arsen. 
  5. Terjadi akumulasi (penumpukan) Merkuri dalam makhluk dasar laut (benthos) di Teluk Buyat. 
  6. Kadar Merkuri dalam ikan beresiko (kesehatan) bagi penduduk Teluk Buyat. 
  7. Kadar Arsen dalam ikan beresiko (kesehatan) bagi penduduk Teluk Buyat. 
  8. Upaya PEMBERSIHAN (clean-up) di Teluk Buyat perlu dilakukan berdasarkan tingkat ancaman terhadap kesehatan manusia (human health hazard) 
  9. Kadar Arsen dalam air minum melampaui baku mutu PERMENKES 
  10. Kadar Logam Berat dalam udara di Dusun Buyat Pante secara keseluruhan paling tinggi dibandingkan desa lainnya. 
  11. Pembuangan limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya MELANGGAR undang-undang pengelolaan limbah beracun. 

Deskripsi di atas, memperkokoh argumentasi bahwa PT Newmont Minahasa Raya telah mencemari Teluk Buyat. Karenanya, Tim Teknis Penanganan Kasus Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hal ini mendorong WALHI untuk menggugat PT Newmont Minahasa Raya dengan tuduhan merusak lingkungan dan meresahkan masyarakat. 

Penyebab 
Adapun indikatornya adalah sebagai berikut: 
  1. Prosedur dan lokasi Sistem Pembuangan Tailing Dasar Laut (SPDTL) yang berada di lapisan awal zona termoklin yaitu pada kedalaman 82 (delapan puluh dua) meter, tidak berada dibawah lapisan termoklin (kedalaman 150 meter). Sehingga tailing terdispersi dan dapat ditemukan pada kedalaman 20 (dua puluh) meter serta sudah tersebar pada radius 3,5 km dari mulut pipa pembuangan tailing; 
  2. Pembuangan tailing yang salah, menyebabkan kerusakan ekosistem laut berupa: (a) kekeruhan yaitu pada zona euphotic, di mana pada zona tersebut terdapat lingkungan fitoplankton (produsen) yang butuh sinar matahari sebagai proses fotosintesis; (b) Penurunan jumlah dan kualitas keberadaan terumbu karang di Teluk Buyat; (c) Bioakumulasi (penumpukan terus menerus di dalam tubuh mahkluk hidup) dari sedimen pada biota laut di daerah euphotic; (d) Penurunan kandungan bentos dan plankton (fitoplankton dan zooplankton) akibat tingginya kadar Arsen (As) pada sedimen di Teluk Buyat; dan (e) Kematian ikan dalam jumlah lebih dari 100 (seratus) ekor di sekitar pipa pembuangan tailing di Teluk Buyat maupun terdampar di pantai; 
  3. Kesehatan masyarakat Buyat yang menurun dan berbagai macam penyakit menyerang tubuh mereka, akibat konsumsi air minum dan ikan yang mengandung logam berat (As dan Mn); 
  4. Tidak adanya surat ijin dari Kementerian Lingkungan HIdup dalam pembuangan limbah ke laut maupun pengolahan limbah (B3). 

Dalam gugatan legal standing ini, WALHI menuduh PT Newmont Minahasa Raya telah melakukan perbuatan melawan hukum atas pasal 41 (1) junto pasal 45,46,47 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pencemaran Llingkungan, Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Uniknya, dalam proses persidangan, tepatnya pada tanggal 12 Juni 2007, PT Newmont Minahasa Raya menggugat balik WALHI senilai US$ 100.000 (setara Rp 9 Miliar, dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000). Menanggapi gugatan balik PT Newmont Minahasa Raya, WALHI menyatakan bahwa gugatan legal standing-nya merupakan ikhtiar konkret penegakan hukum demi melindungi warga dari kerusakan lingkungan. Kematian Andini (6 bln), Abdul Rizal Modeong (14 thn), Ny Fatma, dan penyakit yang diderita oleh warga lainnya di dusun Buyat Pante dan Kampung Buyat, adalah fakta yang tidak bisa disangkal, bahwa penderitaan mereka bukanlah penyakit biasa, dan terkait erat dengan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa Raya. 

Upaya pencegahan
Teluk Buyat – Teluk Ratatotok, merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut: 
  1. Disarankan dilakukan pemantauan Teluk Buyat oleh pihak PT. Newmont Minahasa Raya dan juga pemerintah sampai dengan 30 tahun yang akan datang. 
  2. Masyarakat setempat yang terkena penyakit mempunyai gejala yang sama dengan gejala yang diakibatkan terpapar oleh Arsen. 
  3. Kondisi Teluk Buyat dikategorikan mempunyai resiko tinggi terhadap kesehatan manusia dengan adanya ikan yang mengandung Arsen dan Merkuri, maka disarankan untuk mengurangi konsumsi ikan yang berasal dari Teluk Buyat. 
  4. Perlu dipertimbangkan untuk merelokasi penduduk dusun Buyat Pante ke tempat lain. 
  5. Perlu dilakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan Lingkungan Hidup yang dilakukan oleh PT. Newmont Minahasa Raya.
  6. Kajian hukum tim teknis merekomendasikan pemerintah untuk selanjutnya melarang pembuangan limbah tambang (tailing) ke laut


Sabtu, 31 Mei 2014

TUGAS SOFTSKILL PENCEMARAN LINGKUNGAN

Selasa, 29 April 2014

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN TINGKAT PENDIDIKAN DI INDONESIA

        Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Menurut data statistik bahwa Indonesia masuk kedalam 4 besar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yaitu 241.452.952 jiwa (datastatistik-indonesia.com). Bahkan dari data tersebut menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat sampai dengan tahun 2025. Jumlah ini sangat masuk akal, karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang penduduknya tersebar di seluruh pulau. Walaupun Pulau Jawa yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, tetapi pulau lain pun di prediksi akan mengalami peningkatan penduduk yang sangat signifikan.
Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=283576:populasi-penduduk-ri-mengkhawatirkan&catid=18:bisnis&Itemid=95
         Jumlah penduduk yang banyak ini sangat berpengaruh dengan tingkat pendidikan. Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun di sekolah menegah pertama/madrasah tsanawiyah. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. 

      Di daerah dengan jumlah penduduk yang banyak, secara otomatis tingkat pendidikannya pun setara. Namun di daerah yang memiliki tingkat penduduk yang lebih sedikit, tingkat pendidikannya kurang terpantau. Jumlah penduduk yang tersebar di banyak pulau tidak sebanding dengan tingkat pendidikan. Banyak penduduk yang diluar Pulau Jawa tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan di daerah Pulau Jawa pun masih ada yang belum mendapatkan haknya sebagai penduduk Indonesia. Hal tersebut ditinjau dari fasilitas pendidikannya seperti gedung atau tempat memperoleh pendidikan. Disamping itu jarak rumah dengan sekolah pun menjadi faktor lain yang menyebabkan ketertinggalan pendidikan diluar Jawa.
        Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pihak terkait untuk mempebaiki tingkat pendidikan di Indonesia. Salah satunya yaitu dengan pemerataan yang dilakukan terhadap daerah yang kurang terpantau tingkat pendidikannya. Dengan program yang dilakukan secara intensif, menurut saya dapat memperbaiki bahkan menyamaratakan tingkat pendidikan di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Kejadian sebelumnya seperti sarana prasarananya dapat diatasi dengan baik. Dan juga jarak antara rumah dengan sekolah pun dapat diatasi dengan perbaikan jalan atau jembatan menuju ke sekolah. Dengan demikian harapan seluruh penduduk Indonesia yaitu menginginkan pendidikan yang layak dapat terpenuhi.
Tugas Softskill Pengetahuan Lingkungan Dengan Tema Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Disusun Oleh: 
- Gallih Bintan Y/32411999
- Asep Saepuloh/31411243
- Nur Efendi/35411295
Kelas: 3ID05
Dosen: Dian Kemala Putri 

Jumat, 28 Maret 2014

Opini Asap Kebakaran Hutan di Riau



Berdasarkan kebakaran hutan di Riau yang sedang populer beberapa pekan terakhir, dapat disimpulkan bahwa pihak-pihak yang terkait tidak tanggap pada permasalahan tersebut. Bukan hanya yang berada di daerah asap saja yang prihatin, seluruh rakyat Indonesia pun cukup prihatin dengan penanganan kasus ini. Peristiwa ini terjadi disebabkan terdapat pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang ingin memperkaya diri sehingga hutan pun ikut "termakan" oleh "mereka". Kasus tersebut pun seolah-olah ditutup-tutupi oleh pemerintah kita. 
Tanggapan saya, kasus-kasus semacam ini seharusnya ditelusuri dan diselidiki secara mendalam oleh pihak yang berwenang, sebab yang ditakutkan jika terus dibiarkan seperti ini maka di masa yang akan datang banyak pihak yang "nakal" seperti ini terulang kembali. Apabila proses penelusuran dan penyelidikan telah selesai dilakukan, jika perlu pelakunya ditindak secara tegas.

Jumat, 24 Januari 2014

PROPOSAL PENELITIAN PERILAKU MEROKOK DI KALANGAN SISWA STM

BAB I
PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang
Pelajar adalah aset suatu bangsa yang perlu dididik untuk menjadi manusia yang berkualitas secara jasmani dan rohani. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada generasi penerusnya. Jika generasinya memiliki kebobrokan moral dan perilaku, maka bisa dipastikan bangsa tersebut diambang kemunduran. Kebobrokan moral dan perilaku inilah yang menjadi masalah terbesar di saat ini. Kebobrokan atau perilaku menyimpang sudah tidak menjadi pemandangan yang langka lagi, seperti: tawuran, narkoba, free sex, sering berkunjung ke diskotik dll.
Salah satu perilaku yang sangat merusak generasi muda saat ini adalah perilaku merokok. Efek dari rokok/tembakau dapat memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran , tingkah laku dan fungsi psikomotor (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri ,1979 : 33). Tidak hanya itu, merokok juga menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, dll. Hal ini sangat membahayakan sekali bagi semua pihak terutama pelajar sebagai penerus. Bagaimana mungkin akan terbentuk generasi yang berkualitas, sementara mereka telah terbius oleh efek negatif dari rokok/tembakau.
Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan siswa terutama siswa STM. Hal ini karena pelajar STM didominasi oleh laki-laki yang merupakan konsumen rokok paling utama. Dengan demikian akan dapat diketahui bagaimana persepsi dan perilaku merokok di kalangan pelajar serta hal – hal yang menyebabkannya. Dengan demikian akan dapat dicari suatu solusi untuk menghindari terjadinya perilaku merokok ini dikalangan pelajar.
      B. Masalah dan Fokus Penelitian
        1. Masalah
Selain merusak kesehatan merokok juga dapat menyebabkan penurunan daya tangkap, tingkah laku dan psikomotor seseorang. Hal ini tentu sangat membahayakan bagi pelajar, karena mereka merupakan generasi penerus yang masih dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Bagaimana mungkin pelajaran dapat diserap dengan baik, sementara daya tangkap berkurang, dan kreativitas menurun, serta pola berpikir pelajar yang sudah menuju penyimpangan.
        2. Fokus penelitian
STM (Sekolah Teknik Menengah) merupakan sekolah yang sangat didominasi oleh pelajar laki – laki. Mereka sangat rentan terhadap rokok. Sangat menarik untuk mengetahui persepsi dan perilaku merokok mereka. Dengan demikian hal – hal yang menyebabkan perilaku merokok tersebut dapat diketahui .
        3. Pertanyaan Penelitian
        a. Bagaimana persepsi pelajar STM terhadap merokok?
        b. Bagaimana perilaku merokok di kalangan pelajar STM?
        c. Hal – hal apa yang menyebabkan mereka merokok?
      C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan pelajar STM. Selain itu juga untuk mengetahui hal – hal yang menyebabkan perilaku itu terjadi di kalangan mereka.
      D. Kegunaan Penelitian
Dengan mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan STM ini, maka dapat dilakukan suatu usaha pencegahan agar perilaku tersebut dapat dihindari oleh pelajar.

BAB II
KAJIAN TEORI
 
      1. Pengertian Persepsi
Kata persepsi memiliki beberapa makna, berikut dikemukakan beberapa pengertian tentang persepsi. Sarwono ( 1997 : 94) mengungkapkan bahwa “persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, perabaan dan sebagainya ) “. Persepsi merupakan suatu proses yang terjadi pada seseorang yaitu proses memahami atau memberi makna terhadap setiap informasi yang diterima oleh seseorang melalui alat indra, dan selanjutnya seseorang mempersepsi atau memahami informasi yang mereka terima. Berkaitan dengan pengertian persepsi, Gibson (dalam Andrew, 1983; 74) mengungkapkan “Perception is a proses by which the brain selects, organize and interprets the sensation”. Penjelasan ini menunjukkan bahwa fungsi dari persepsi adalah untuk membantu orang memahami setiap informasi yang datang dari luar melalui indera secara logis dan teratur.
      2. Konsep perilaku
Dalam kamus bahasa Indonesia Depdikbud (1997) perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Tanggapan atau reaksi tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan, perbuatan atau tindakan yang bertujuan sesuai dengan sifat rangsangan itu sendiri. Berarti perilaku adalah suatu respon yang merupakan akibat dari adanya rangsangan sebagai penyebab.
Menurut Thorndike (dalam Rakhmat, 1993) perilaku adalah hasil pengalaman. Perilaku digerakkan oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Adanya stimulus (s) akan menimbulkan suatu respon (r) tertentu. Intensitas hubungannya akan menjadi kuat manakala diikuti suasana yang menyenangkan atau sebaliknya.
Menurut Ross (dalam Rakhmat,1993) menyatakan bahwa faktor situasional atau fakor lingkungan yang paling berperan dalam perkembangan perilaku individu. Sedangkan menurut Sampson (dalam Rakhmat,1993) menyimpulkan bahwa interaksi kedua faktor yaitu personal dan lingkunganlah yang mempengaruhi perilaku. Hal ini sesuai dengan pendapat Jung (dalam Efendi,1985) bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku, yaitu : faktor pembawaan (Heredity) dan faktor lingkungan (environment).
      3. Tipe perilaku merokok
Berdasarkan Management of affect theory, Silvan Tomkins (dalam Al Bachri,1991) ada 4 tipe perokok yaitu :
1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif.
             Green (dalam Psychological Factor in Smoking, 1978) menambahkan ada 3 sub tipe ini :
        a. Pleasure relaxation perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah
            didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
         b. Stimulation to pick them up Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
        c. Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api.
2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi,sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.
3. Perilaku merokok yang adiktif. Oleh Green disebut sebagai psychological Addiction. Mereka yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya.
4. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.
4. Hal – hal yang menyebabkan perilaku merokok
1. Pengaruh 0rangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294). Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak di dapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok dari pada ayah yang merokok, hal ini lebih terlihat pada remaja putri (Al Bachri, Buletin RSKO, tahun IX, 1991).
2. Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)
3. Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).
4. Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
      A. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu berusaha mengungkapkan kajian persepsi dan perilaku pelajar tentang merokok. Hal ini senada dengan pendapat Abizar (1999) yang menyatakan bahwa tujuan utama penelitian kualitatif adalah menentukan makna dibalik tingkah laku lahiriah manusia sebagai anggota masyarakat dimana masalah fenomologis merupakan salah satu basis bagi penelitian kualitatif.
      B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di STM 1 Padang. Dimana jumlah mayoritas tertinggi pelajarnya adalah laki-laki.
      C. Informan
Didalam penelitian ini, peneliti merupakan instrument kunci yang sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif. Untuk itu penulis secara individu akan turun ke tengah-tengah masyarakat guna memperoleh data dari informan. Pemilihan informan dilakukan secara purposive, yaitu atas dasar apa yang kita ketahui tentang variasi-variasi yang ada (Sanapiah, 1990). Adapun yang menjadi informan adalah pelajar STM itu sendiri yang sukarela memberikan informasi.
Penentuan informan di atas didasarkan pada pendapat Spradley dalam Sanapiah (1990) yang menyatakan bahwa informan adalah mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas yang menjadi objek perhatian.
      D. Teknik pengumpulan data
Selanjutnya kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengikuti pola yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992), yakni melalui: 1). Wawancara, 2). Observasi, 3). Studi dokumentasi.
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan jenis wawancara dengan pedoman umum dimana peneliti dilengkapi panduan wawancara yang sangat umum yang hanya akan mencantumkan isu-isu yang harus diteliti tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Peneliti juga akan menggunakan model pertanyaan open question dan close question di dalamnya. Peneliti juga menyertakan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara konvensasional yang informal, dimana proses wawancara ini didasarkan penuh pada perkembangan pertanyaan secara spontan dalam interaksi alamiah. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan jenis observasi non partisipan, dimana observer tidak ikut terlibat penuh dalam kegiatan observasi tersebut. Peneliti mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dari perspektif merekam yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut.
      E. Teknik Menjamin Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan teknik yang dikemukakan oleh Maleong, (2001), yaitu :
        1. Perpanjangan keikutsertaan
        2. Ketekunan Pengamatan
        3. Triangulasi
Metode yang digunakan dalam triangulasi ini antara lain :
        a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara
        b. Membandingkan persepsi dan perilaku seseorang dengan orang lain
        c. Membandingkan data dokumentasi dengan wawancara
        d. Melakukan perbandingan dengan teman sejawat
        e. Membandingkan hasil temuan dengan teori
        4. Pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara dalam bentuk diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman sejawat.
      F. Teknik analisis data
Teknik analisis data dalam penelitian ini akan menggunakan metode seperti yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
        1. Reduksi data
        2. Penyajian data
        3. Menarik kesimpulan
        4. Verifikasi
Reduksi data dalam penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk proses pemilihan, pengeditan, pemusatan pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan di lapangan. Selanjutnya data yang merupakan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan dalam penelitian ini akan disajikan dalam bentuk matriks. Format matriks merupakan abstraksi atau penyederhanaan dari data kasar yang diperoleh dari catatan di lapangan. Penyusunan matriks beserta penentuan data kasar yang masuk akan dilakukan berdasarkan kasus atau topic bahasan. Selanjutnya dari data yang terdapat disusun dalam matriks tersebut, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan yang dideskripsikan secara normatif.

DAFTAR PUSTAKA
Abizar, Agus I, Chatlinas S (1999). Buku Panduan Penulisan Tesis. Padang : PPs
Ahmad, R (1998).Psikologi Umum. Jakarta ; Rika Cipta
Efendi, O.U (1985).Psikologi management. Bandung ; Alumni
Muhammmad Ikbal. Persepsi siswa terhadap Karier dan Pelaksanaan Bimbingan Karier di Sekolah Menengah Umum (SMU) 2 Sungai Penuh Kabupaten Kerinci. Tesis. 2004.
www. e-psikologi.com
Web Forum Upi. Remaja dan Rokok.indexs.php.hmtl

Jumat, 29 November 2013

PROPOSAL PENELITIAN


Judul :
            “Pengaruh Cahaya Terhadap Kecepatan Pertumbuhan Biji Kacang Hijau”
Latar Belakang:
            Latar belakang penelitian “Cahaya Terhadap Kecepatan Pertumbuhan Biji Kacang Hijau” antara lain sebagai berikut:
1.      – Penanaman biji kacang hijau yang mudah
2.      – Harga kacang hijau yang terjangkau
3.      – Biji kacang hijau yang mudah di temukan
Rumusan Masalah:
            “adakah pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan kacang hijau?”
Tujuan Penelitian:
            “untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan biji kacang hijau”
Manfaat Penelitian :
1.      Bagi petani, memberikan informasi untuk meningkatkan hasil pertaniannya
2.      Bagi peneliti, penelitian ini dapat di jadikan kajian awal untuk melakukan penelitian lanjutan.
Membuat Hipotesis :
            Cahaya dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan biji kacang hijau
Tinjauan Pustaka :
            Cahaya matahari mempengaruhi tumbuhan berdaun hijau karena cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis tumbuhan. Cahaya matahari juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman,  misalnya  tumbuhan di tempat gelap akantumbuh lebih cepat, tetapi dengan kondisi pucat, kurus, dan daunnya tidak berkembang. Sebaliknya, tumbuhan di tempat terang akan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relative pendek, daun berkembang baik dan berwarna hijau.
Variabel Penelitian :
1.      Variable bebas    : cahaya matahari
2.      Variable terikat   : kecepatan pertumbuhan perkecambahan
3.      Variable control  : kualitas biji kacang hijau, tempat prkecambahan, volume air
 Metode Penelitian
1.      Rumusan operasional variable
-   Operasional variable bebas
Tempat tumbuh biji kacang hijau ada yang di tempat terang dan ada yang di tempat gelap.
-   Operasional variable terikat
Kecepatan pertumbuhan perkecambahan biji kacang hijau per hari, dengan interval pengamatan 6 hari.
2.      Merancan Penelitian
Wadah 1 : perlakuan di tempat yang terang
Wadah 2 : perlakuan di tempatkan di tempat yang gelap
3.      Menentukan pupulasi dan sampel
Populasi  : biji kacang
Sampel    : 2×5 biji kacang hijau
4.      Alat dan bahan
- Wadah plastic
- Penggaris
- Biji kacang hijau
- Kapas
- Air
5.      Prosedur penelitian
a.       Siapkan 2 wadah plastic
b.      Isi 2 wadah tersebut dengan kapas yang telah di basahi dengan air
c.       Tanam biji kacang hijau di wadah plastic yang telah di sediakan. Setiap satu wadah berisi 5 biji kacang hijau
d.      Beri nomor di setiap biji.
e.       Wadah yang satu di letakkan ditempat yang terang, dan yang lain di letakkan di tempat yang gelap
f.       Siran setiap hari biji kacang hijau tersebut.
g.      Lakukan pengamatan selama 6 hari.

MENUJUKESEMPURNAAN © 2008 Template by:
SkinCorner